Dadang Kurniawan

STORY

Wejangan Bapak

suatu sore di sebuah pelataran rumah, terdapat lelaki tua terlihat duduk sendiri di kursi kesayanganya. seperti biasa, ia menikmati suasana sore ditemani bako yang dilinting dengan daun kawung, kopi dan singkong rebus yang biasa disiapkan istrinya. 

mukanya selalu terlihat cemberut, menggambarkan kerasnya watak dan perangainya, entah karena lelahnya kehidupan yang ia jalani atau memang banyaknya masalah yang sedang ia hadapi.

seorang anak kecil berlari-lari bahagia sembari menenteng layangan putus, melangkah di depan lelaki tua itu, ia tidak memperdulikan sekitarnya. anak kecil itu terus asik dengan layangan putusnya. sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganya.

lelaki tua itu memanggil. “nang, sini!”

anak kecil itu mendekat dengan polos.

“darimana?” tanya lelaki tua itu.

“habis main layangan disawah” jawab anak kecil itu dengan hati-hati dan polos. anak kecil itu terlihat takut. dipikirnya, lelaki tua itu akan memarahinya tanpa alasan yang ia ketahui. atau ia pikir, lelaki tua itu akan memarahinya karena ia telah melakukan suatu kesalahan, kesalahan karena asik bermain, kesalahan karena ia bahagia mendapatkan layangan putus.

“itu layangan sjapa?” tanya lelaki tua dengan tegas. suaranya terdengar tidak menyenangkan.

“ini layangan si agus, tadi layanganya ngadu  sama layanganya si ndi. terus putus. terus aku kejar layanganya”, anak kecil itu menjelaskan dengan rasa takut. takut dimarahi, takut disangka bohong, takut jika ia dituduh menggunakan uang jajanya untuk membeli hal yang tidak berguna (layangan), takut dijewer karena lancang. 

muka anak kecil itu mulai memerah, memperlihatkan rasa iba. sebentar lagi ia akan menangis, air matanya hampir keluar.

lelaki tua itu merasa iba juga, ada rasa bersalah saat melihat wajahnya.

“kenapa nggak dibalikin lagi layanganya?” tanyanya sedikit penasaran.

anak kecil itu hanya menggeleng, ia tidak sanggup lagi berkata, suaranya tersekat dikerongkongan.

sebagai orang yang lama hidup, lelaki tua itu sebenernya mengerti, itu adalah hal wajar. ini adalah kebiasaan anak-anak di kampung ini setiap musim kemarau, setelah padi-padi di sawah dipanen, mereka asik bermain di sawah, bagai lapangan berumputkan jerami. sebagian anak membuat lapangan bola sepak dengan membabat sisa-sisa tanaman padi yang diarit dan sebagian lagi asik menikmati serunya bermain layangan.        

suasana hening sejenak. lelaki tua itu menghisap bako yang dilinting daun kawung kesayanganya, mengepulkan asap dari bibirnya yang tampak hitam. matanya menerawang, seperti menilik pada kejadian-kejadian yang pernah ia alami semasa hidupnya.

anak kecil itu diam menunduk, pasrah menerima apapun yang akan menimpa nasibnya.

lelaki tua itu melanjutkan, 

“nang, nanti kamu inget ya, nanti teman-teman kamu itu jadi orang yang akan kamu ajak bertukar pikiran, kamu jangan salah temen dan jangan bikin temen kamu sakit hati. nanti hidup kamu susah kalo nggak punya temen”.

itu adalah kali pertama anak kecil itu mendengar wejangan dari bapaknya, sebuah kalimat yang berbeda dari kalimat yang biasa ia dengar dari lelaki tua yang ia langgil bapak itu, sebuah nasehat yang belum ia mengerti, anak kecil itu hanya mengerti teman sebatas orang yang bisa diajak bermain.

anak kecil itu kemudian mengangguk, tidak mau berlama-lama, tidak banyak bertanya, sekarang kepalanya hanya memikirkan cara agar cepat keluar dari situasinya saat itu.

“mandi sana, terus ngaji ke tajug” ucap lelaki tua itu mengakhiri, sekaligus menjadi harapan yang terkabul  dari si anak kecil itu. dengan muka sumringah anak kecil itu melengos pergi.     

*nang, panggilan anak laki-laki jawa

*tajug, mushola/langgar

Leave a Reply

%d bloggers like this: