Dadang Kurniawan

STORY

Sekilas

Aku melambaikan tanganku kejalan, metromini yang melaju kencang memperlambat kecepatanya, aku naik dan berdiri dipintu depan. 

Penuh sekali hari ini penumpangnya. kondektur memukul-mukul badan bis dengan uang receh, yang dimengerti si supir untuk kembali melaju.

lewat pintu yang disekat melompong, angin menyapu wajahku yg sedikit menyembul. 

Didepan terlihat seorang perempuan berkerudung melambaikan tangan, sebuah kode bahwa mereka adalah penumpang. Aku menggeserkan posisiku berdiri untuk memberi ruang. Saat aku berpapasan dengan smereka, aku mencium semriwing bau harum menari-nari dihidungku. Aku mencuri pandang si pemilik bau wangi, wajahnya cantik dan teduh. 

dia memakai kerudung berwarna ungu, berbaju abu-abu dan bercelana jeans. tubuhnya kurus, kulitnya putih, wajahnya dihiasi alis yang tebal dengan mata besar berbinar yang dipisahkan jarak oleh hidung mancung dan bibir merah muda merekah. aku tidak jemu memandanginya.

sesekali aku lhat dia sibuk mengotak-atik ponselnya, raut wajahnya serius. aku memalingkan pandangananku keluar,melihat sejenak hecticnya kehidupan jakarta.

aku kembali memalingkan pandanganku pada si gadis cantik, mataku bertemu dengan matanya yang bening, indah sekali. dia memperhatikanku!. dia gelagapan, mencari perlindungan dari kecanggungan yang tertangkap basah memandangiku. dia tersenyum malu, menambah kecantikanya. 

“pulomas bang!” teriaknya kepada kondektur. aku melihat gigi dan gusinya yang juga merah muda. 

aku kembali berpapaan denganya, merangsangku kembali dengan aromanya. kali ini dia meliriku dengan senyum, aku diam, tidak membalas senyumnya.

andai saja aku seorang lelaki mapan dan mengenalmu, akan ku tarik tanganmu hingga kita berhadap-hadapan,akan aku katakan: aku melamarmu pada saat ini juga.

Leave a Reply

%d bloggers like this: